SMA PL ST. YOSEF SURAKARTA
SMA PANGUDI LUHUR ST. YOSEF - Jl. L.U. Adisucipto (Jl. Kelengkeng No. 1) Surakarta  Telp/Fax. 62-271-710795
Selasa, 12 Desember 2017  - 1 User Online  
BERANDABUKU TAMUHUBUNGI KAMI 


01.12.2011 07:41:11 979x dibaca.
ARTIKEL
Mengukur Kesejahteraan Guru

Dimuat di Wacana SUARA MERDEKA, 22/11/11

oleh : FX Triyas Hadi Prihantoro

 

BANYAK orang menganggap guru sekarang makin sejahtera. Tolok ukurnya hanya tunjangan sertifikasi dalam gaji. Benarkah gaji guru hampir lipat dua dari biasanya?

Penulis, yang lebih dari 20 tahun menjadi guru, mempertanyakan anggapan itu. Apakah parameter untuk mengukur kesejahteraan hanya mendasarkan pada pendapatan tambahan finansial sertifikasi?

Sejak sertifikasi mulai digulirkan tahun 2007, dari total 2.925.676 guru di Indonesia, sampai tahun ini baru 1.101.552 yang mengikuti. Dari jumlah itu, 746.727 guru (25,5%) sudah bersertifikat dan 731.002 (97,9%) telah menikmati tunjangan profesi. Sisa guru yang memenuhi syarat mengikuti sertifikasi 961.688 orang (32,9%). Dari jumlah total sisa guru, 861.967 (29,5%) belum memenuhi syarat untuk ikut program sertifikasi karena belum mencapai jenjang S-1/D-4 (Kompas, 16/11/11). Menurut rencana, tahun 2012 ada 300.000 guru yang akan disertifikasi.

Tinggi minat menjadi guru tidak saja karena output dari fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (FKIP) yang meningkat secara signifikan tiap tahun. Sejumlah PTS yang membuka program pendidikan akta IV (berhak mengeluarkan sertifikat syarat untuk mengajar) bahkan memiliki jumlah mahasiswa lebih banyak ketimbang program reguler. Belum lagi menjamurnya lembaga pendidikan tenaga pendidik (LPTK) yang menjanjikan jaminan kelulusan dan kemudahan memperoleh kesempatan bekerja.

Apalagi beberapa waktu lalu pemerintah menyediakan tempat bagi 40.000 lulusan sarjana murni untuk mengikuti program pendidikan guru. Lama pendidikan profesi ini 6 bulan untuk menjadi guru SMP/ SMA dan setahun untuk bisa menjadi guru TK/ SD. Tujuan pola perekrutan guru dari sarjana murni adalah untuk meningkatkan mutu dan kualitas  pendidikan. Hal ini memunculkan pertanyaan bagaimana jika nanti lahir tuntutan baru dari lulusan program profesi guru.

Permasalahan guru di Indonesia tidak hanya sekadar berpenghasilan lebih atau ada tambahan. Namun kemampuan profesional sesuai dengan tuntutan kompetensi pedagogis, kepribadian, sosial, dan profesional (manajerial) justru menjadi harga mati bagi guru. Persoalannya, penilaian profesionalitas kadang hanya diukur dari perolehan sertifikat, baik melalui penilaian portofolio maupun program latihan profesi guru (PLPG).

Jadi, mereka berupaya semaksimal mungkin menjadi profesional tapi kadang lewat cara kurang terpuji. Misalnya, dengan modus mark up sertifikat, jam mengajar, tugas sampingan, sampai penghargaan profesional yang seolah-olah diperoleh. Mereka yang lulus program profesi pun ada yang hanya mencontoh dari seniornya yang sudah mengikuti  pelatihan dan lulus PLPG.

Esensi Kesejahteraan

Menjadi pertanyaan kita bersama, apakah meningkatnya kesejahteraan guru berimplikasi pada kualitas pembelajaran di kelas? Sebenarnya, guru yang belum berubah sesuai tuntutan profesional, boleh dikatakan belum sejahtera dalam arti sebenarnya. Guru bisa disebut sejahtera bila benar-benar menjalankan profesi sesuai roh pendidikan tanpa mengenal kompromi dengan pihak lain yang memaksakan kehendak atau menitipkan kepentingan.

Mentalitasnya pun harus berubah mengingat pemerintah juga meningkatkan anggaran pendidikan yang memprioritaskan untuk kesejahteraan guru, dengan harapan guru lebih bertanggung jawab, tertib, disiplin, loyal dan sebagainya. Artinya jangan sampai ada guru yang indisipliner,  keluyuran pada jam mengajar, mengosongkan kegiatan belajar mengajar (KBM) atau melakukan kekerasan.

Sifat sebagai pamomong harus menjadi gaya hidup yang terwujud dalam sikap ramah, terbuka, mau menerima, mendengar, mengedepankan asa kekeluargaan, menghormati individu lain, berdialektika, dan menjadi pembelajar yang berkesinambungan. Semua itu bisa dilakukan oleh seorang guru tanpa mengurangi kewibawaannya.

Peningkatan kesejahteraan merupakan tantangan guru tapi mentalitas guru juga harus berubah, berkompetensi untuk meningkatkan mutu kualitas diri. Kesejahteraan akan dirasakan bila guru bisa mentransfer ilmu, membina sikap, mental, dan perilaku peserta didik menjadi lebih berkualitas. Selain itu, memberikan bimbingan, pendampingan dan pendidikan hingga anak didik menjadi  generasi cerdas dan berakhlak mulia. Itulah esensi kesejahteraan lahir batin. (10)

 

— FX Triyas Hadi Prihantoro, guru SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta








^:^ : IP 54.82.112.193 : 2 ms   
SMA PL ST. YOSEF SURAKARTA
 © 2017  http://styosef.pangudiluhur.org/