SMA PL ST. YOSEF SURAKARTA
SMA PANGUDI LUHUR ST. YOSEF - Jl. L.U. Adisucipto (Jl. Kelengkeng No. 1) Surakarta  Telp/Fax. 62-271-710795
Selasa, 12 Desember 2017  - 1 User Online  
BERANDABUKU TAMUHUBUNGI KAMI 


09.11.2011 12:08:36 1635x dibaca.
ARTIKEL
Menjadi Guru "24 Jam"

Oleh FX TRIYAS HADI PRIHANTORO

Opini harian Kompas 24 juni 2011

 

 Istilah 24 jam berarti tanpa henti beraktivitas, baik dalam bekerja maupun berusaha. Di banyak tempat terpasang papan nama dengan embel-embel 24 jam ini: bisa dokter jaga, apotek, toko swalayan, juga restoran. Namun, istilah 24 jam bagi guru bermaknalain. Istilahini mengemuka sebagaituntutan guru yang bersertifikat berdasarkanPeraturan MendiknasNo 18/2007tentang SertifikasiGuru dalamJabatan. Satujamguru mengajar berarti 40 menit untuk SMP sederajat dan 45 menit untuk SMA sederajat. Pro dan kontra muncul untuk bisa memenuhi tuntutan tersebut. Sertifikasi ini mewajibkan guru mengajar selama24 jam per minggu. Namun, istilah ini bukan berarti hitungan waktu dalam satu hari, melainkan banyaknya tatap mukadalam kegiatanbelajar-mengajar (KBM) yang menjadi keharusan guru profesional. Swasta sudah biasa Sebagai guruswasta sejak menjadi pendidik pada awal ta- hun 1990-an, penulistidak kaget dengan kewajibanitu. Hampir semua sekolah swasta—terutama yang berpayung yayasan—mewajibkan guru swasta mengajar minimal 24jam karenaproses belajar-mengajar (PBM) ditanggung peserta didik.Maka, gurumeng- ajar hingga lebih dari 30 jam per minggu adalah hal biasa. Kadang saatpertemuan Mu- syawarah GuruMata Pelajaran (MGMP),rekan guruyangber- status pegawai negeri sipil (PNS) kaget dengan jumlah jam mengajar itu.Pertanyaan pun muncul, mulai dari kok mau, ba- gaimana membagiwaktu, ke- mampuanfisik, sampaihonor yang didapat. Sejak bergulirnya Kurikulum Tingkat SatuanPendidikan tahun 2004, mengajar lebih dari 24 jam per minggu menjadi hal luar biasabagiPNS. Inikarenadipangkasnyabeban mengajarpa- da beberapa mata pelajaran. Rata-rata jatah mengajar hanya 12-18 jam per minggu dan ada jatah hari bebas mengajar. So- alnya, hampir semua sekolah ne- geri ”ke l i m p a h a n ”guru bidang studi. Namun, sekarang situasi berbalik dengan adanya tuntutan 24 jamsebagai syarat tun- jangan sertifikasiguru profesional. Maka, guruyang merasaseniordan biasanyamalasmengajar 24 jam atau lebih sekarang berebut memenuhi tuntutan mengajar. Guru yunior, guru tidak tetap, dan guru ho-norer harus rela jam- nya diminta oleh gu- ru bersertifikat. Pada- hal, ketentuan meng- ajar 24 jam tatap muka ini sudah lahirsejak Keputusan  Menpan No 84/1993. Sebenarnya jumlah mengajar 24 jam tidaklahberat dengan alokasi waktuKBM 38-42jam per minggu. Kondisi ini terasa beratapabila sebelumnyaguru dalam mengajar kurang memenuhi beban mengajarnya. Hal ini bisa menimbulkanpergesek- an—karena adaperebutan jam mengajardengan gurubidang st u d i —yang berdampak pada ter- abaikannya hak siswa. Kewajiban mengajar24 jam tertulisdalam Pasal35 Ayat(2) UUNo 14/2005tentangGuru dan Dosen. Isinya:beban kerja guru sekurang-kurangnya 24 jam tatapmuka dansebanyak-banyaknya40 jamtatap mukadalam satu minggu. Padaguru yang mengajar denganbebankurang, halinibisa menjadi ancaman dicabutnya tunjangan sertifikasi saat evaluasi/supervisi beban jam mengajar. Namun,hal inijuga menjaditi- dakidealjika seorangguruguna memenuhi ketentuan kuota 24 jam lalu mengajar di sekolah lain karenakonsentrasi fokuspem- belajaranpasti terbelah(bias). Akan terjadiperubahan paradigma demikepentingan sendiri, mendapatkanyang terbaikbagi dirinya sendiri dan mengajar bukan untuk sekolah atau siswa. Padahal, jelas sekali diatur dalamUUGuru danDosen,beban kerja gurumencakup kegiatan pokok merencanakanpembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbingdan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan (Pasal 35 Ayat 1). Siasat Alih-alih berusahamenjalankan kewajiban mengajar24 jam perminggu, yangterjadiadalah adu siasat dan strategi di lapangan. Banyakkasus terungkap saat disupervisi, mulai jadwal fiktif, tugas tambahan palsu, hingga penggelembungan jam mengajar. Segalaupaya dilakukanguna ”menyelamatkan" pundi-pundi tunjangan sertifikasi. Integritas dan komitmen dalam melaksanakan kewajiban sesuai keharusantentu wajibdipatuhi. Tidak hanyapelaku (guru), tetapi jugapihak penyelia (supervisor/pengawas). Tidak mengherankan jika Kementerian Pendidikan Nasional masih menjadi sorotan sebagai ladang pembenihan dantumbuh suburnya korupsi.Mungkin area”24 jam” ini salah satu celahnya. Jikapendidik masihberupaya curangdan sekadarmenuntut tanpa implementasi pelaksanaan kewajiban tugas profesional, upaya peningkatankesejahteraan akan sia-sia.Hal itukarena orientasi guruhanya melulupada pemenuhan hak (material) tanpa dilandasi etos kerjayang bertanggung jawab. Seharusnya gurumengoptimalkansikap profesional,akuntabel, transparan, dan melandasinya dengan mental positif dalam melaksanakantugas. Guruharus mampu menjadikandunia pendidikantidak stagnandansemakin berkualitas. Karenaterfokus padatarget tuntutan demi tunjangan dan tugas sampingan,guru sering mengabaikan tugas utamanya sebagai pendidik. Banyak guru yang masih kurangmembaca, belajar, meneliti, menulis,berinovasi, dan melek iptek. Belum lagi jika semua guru menuntut 24jam tatapmuka, siapa yang akan diajar sesuai daya tampungsekolah? Siasat lagi yang akan lahir demi tercapainya tuntutan jumlah jam mengajar. Bahkan,berapa pun jumlah siswa akan dimaksimalkan jumlah kelasnya (dengan menambah kelas misalnya) demiterpenuhinya tuntutan 24 jam. Saatnya Kementerian Pendidikan Nasional dan pemerintah daerahmendata denganmelihat kapasitas jumlah pemenuhan kuota mengajar pemetaanguru di sekolah diwilayah masing-masing. Pada prinsipnya, guru dalam melaksanakan tugasmengajar mempunyai tanggung jawab yang sama: mencerdaskan peserta didik dengan beban dan jumlah siswa yangdiajar sesuaidengan aturan yang berlaku berdasarkan rombongan belajarnya. Dibutuhkan kerja sama antara Kementerian PendidikanNasional sebagai pemilik (guru), Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara danReformasi Birokrasi, Kementerian Dalam Negeri(pemerintah daerah)sejalan otonomi daerah,serta Kementerian Keuangan sebagaipenyusun,perencana, danpengalokasi anggaran belanja negara demi keadilan dan kesiapan dalam memberi jaminan kesejahteraan bagi guru yangmemenuhi tuntutan mengajar 24 jam. Kinerja dan beban guru mengajar24 jamper minggucukup ideal demimengoptimalkan tugas dan tanggung jawab. Namun, supervisi dan evaluasiguru bersertifikat jangan sebatas mem-bolak-balik laporanportofolio. Masih diperlukan survei, inspeksi mendadak, wawancara, dan pemantauan langsung yang akan berimplikasipada kinerjakualitas mental, spiritual, dan fisik.

 

Penulis : FX TRIYAS HADI PRIHANTORO Guru SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta

 








^:^ : IP 54.82.112.193 : 2 ms   
SMA PL ST. YOSEF SURAKARTA
 © 2017  http://styosef.pangudiluhur.org/