SMA PL ST. YOSEF SURAKARTA
SMA PANGUDI LUHUR ST. YOSEF - Jl. L.U. Adisucipto (Jl. Kelengkeng No. 1) Surakarta  Telp/Fax. 62-271-710795
Selasa, 12 Desember 2017  - 1 User Online  
BERANDABUKU TAMUHUBUNGI KAMI 


03.03.2011 02:49:09 1075x dibaca.
ARTIKEL
TOMBOL MERAH, DAN 3000 JIWA PUN SELAMAT

Disadur oleh Adiel Yido Panjaitan (alumni 2005)

Paul dan Joy Hattaway dari Asia Harvest menceritakan pengalaman ini :

Ketika gelombang penganiayaan melanda seluruh Cina pada tahun 1950-an, pastor Li juga ditangkap di daerah selatan propinsi Guangdong. Dia dituduh melakukan "kegiatan-kegiatan kontra revolusioner" dan dihukum dengan menjalani kerja paksa di sebuah pertambangan biji besi yang terletak di daerah ujung timur laut Cina. Istri Li dan 5 anaknya, termasuk si
bungsu yang masih bayi, tidak punya lagi penopang keluarga. Akhirnya mereka memutuskan untuk bergabung dengan pastor Li dengan menempuh perjalanan sejauh 2000 mil ke Heilongjiang demi memungkinkan mereka dapat mengunjunginya lebih sering, dan supaya mereka dapat lebih dekat seandainya suatu saat terjadi keajaiban, yaitu pastor Li dibebaskan.

Keluarga itupun menjual semua yang mereka miliki dan membeli tiket untuk perjalanan naik kereta api selama seminggu. Ketika telah sampai, mereka menggunakan papan kayu tua dan selembar kain terpal untuk membuat sebuah gubuk reot di jalan dekat kamp pekerja itu. Pastor Li menjalani kerja paksa itu selama 14 jam tiap harinya, dengan makanan yang tak layak, dalam temperatur udara yang mendekati titik beku.

Beliau pun meninggal 3 bulan kemudian. Ketika keluarganya mendengar berita duka itu, mereka pun merasa sangat terpukul dan putus asa. Istri Li tak mampu lagi melihat adanya masa depan bagi mereka, dan ingin mengakhiri hidupnya. Anak-anaknya menjadi terabaikan. Akhirnya, ia berkata pada anak-anak itu bahwa ia akan pergi untuk mencari kerja. Si sulung berkata, "Jangan, Bu, ibu tidak boleh pergi bekerja. Adik yang masih bayi membutuhkan ibu. Dia selalu menangis mencari ibu sepanjang hari. Saya saja yang bekerja." Gadis berusia 12 tahun itu pun pergi menghadap kepala kamp pekerja itu dan berkata padanya, "Ayah saya telah dikirim ke tempat yang tidak mengenal

Tuhan ini karena dia mengasihi Yesus Kristus. Itulah satu-satunya pelanggaran yang dia lakukan. Ayah adalah orang baik, yang mengasihi orang lain dan membantu mereka. Sekarang ayah telah tiada, dan kami di sini
tidak mempunyai makanan, uang dan tempat tinggal. Kami bahkan tak bisa kembali lagi ke selatan. Saya ingin tahu kalau saja ada pekerjaan yang dapat saya lakukan di kamp ini." Kepala kamp itu masih ingat dengan pastor Li, dan tahu bahwa gadis kecil itu adalah putrinya Li. Di dalam hatinya terbersit rasa kasihan, dan ia pun berkata, "Aku punya pekerjaan untukmu, tapi membosankan, dan bayarannya rendah." Gadis kecil itu tanpa ragu-ragu segera mengambil pekerjaan itu.

Kepala kamp membawanya ke lokasi di mana 3000 pekerja paksa itu menambang biji besi. Ia berkata padanya, "Kamu lihat tombol merah itu? Tugasmu adalah berdiri di dekat tombol itu sepanjang hari, dan jika ada yang menyuruhmu memencetnya, kamu harus segera melakukannya. Itu adalah tombol alarm untuk membunyikan tanda peringatan di dalam tambang di bawah tanah. Ketika suara tanda peringatan berbunyi, para pekerja harus segera keluar secepatnya.


Kamu tidak boleh memencet tombol itu sembarangan, harus hanya ketika ada yang menyuruhmu." Dan si sulung kecil dari keluarga Li itu pun berdiri di sebelah tombol itu sepanjang hari demi hari, minggu demi minggu. Ketika menerima upah pertamanya, kegembiraan luar biasa segera meliputi dirinya dan seluruh keluarganya meski besarnya hanya beberapa dolar
saja. Di suatu siang, mendadak dia mendengar suatu suara "Pencet tombolnya !" Dia melihat dan berputar ke sekelilingnya, mencoba mencari tahu suara siapakah itu, namun tak seorang pun yang kelihatan.


Tak lama kemudian, terdengar sekali lagi suara, "Cepat ! Pencet tombolnya, sekarang !" Masih tak ada seorang pun yang kelihatan, dan dia mulai berpikir bahwa dia telah kehilangan akalnya. Dia hanya harus memencet tombol peringatan ketika ada sesuatu yang gawat, dan saat ini, semuanya kelihatan baik-baik saja. Beberapa detik kemudian, kembali sebuah suara terdengar, kali ini dengan nada yang sangat mendesak, "Li Kecil, pencet tombolnya sekarang !" Kali ini dia segera menyadari bahwa itu adalah suara Tuhan-nya yang berkata padanya. Dia tidak mengerti alasan kenapa dia harus memencet tombol itu, tapi dia tahu bahwa dia harus menuruti-Nya.


Alarm pun dibunyikan, dan 3000 orang segera naik ke permukaan
secepatnya,
dengan bingung dan penasaran apa yang telah terjadi. Kepala kamp
juga
berlari keluar dari kantornya, ingin tahu kenapa gadis kecil itu
memencet
tombol merah. Hanya berselang beberapa saat setelah pekerja
terakhir
meninggalkan lokasi pertambangan,
sebuah gempa bumi hebat
mengguncang
tempat itu. Seluruh area pertambangan itu runtuh dan tak ada
seorangpun
yang mampu membangunnya kembali sampai saat ini.
Suatu keheningan yang mencekam segera meliputi tempat itu saat
guncangan
gempa bumi itu berakhir. Semua orang memandangi sosok kecil dan
ringkih
yang telah menekan tombol merah itu.
Akhirnya, suara kepala kamp segera memecah keheningan, "Kawan Li,
bagaimana
... bagaimana Anda tahu kalau harus menekan tombol merah itu ?"
Li Kecil menjawab sekeras-kerasnya, "Tuhan Yesus Kristus-lah yang
menyuruh
saya untuk memencet tombol merah itu. Ia menyuruh saya tiga kali
sebelum
saya melakukannya. Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan bagi kita
untuk
mengenal Allah yang hidup dan yang sejati. Dia mencintai kalian semua,
dan
Dia baru saja menunjukkan kasih-Nya dengan menyelamatkan kalian
semua.
Kalian harus berbalik
dari dosa-dosa kalian dan memberikan hidup
kalian
pada-Nya !"
Sekitar 3000 pekerja dan kepala kamp segera berlutut dan berdoa
supaya
Yesus mengampuni mereka dan mau hidup dalam hati mereka semua. (t/ary)

Sumber : Asia Harvest Newsletter.



PUSH UP

Ada seorang Profesor mata kuliah Religi yang bernama Dr.Christianson
yang
mengajar di sebuah perguruan tinggi kecil di bagian barat Amerika
Serikat.
Dr. Christianson mengajar ke-Kristenan di perguruan tinggi ini dan
setiap
siswa semester pertama diwajibkan untuk mengikuti kelas ini. Sekalipun
Dr.
Christianson berusaha keras menyampaikan intisari Injil kepada kelasnya,
ia
menemukan bahwa kebanyakan siswanya memandang materi yang diajarnya
sebagai
suatu kegiatan yang membosankan. Meskipun ia sudah berusaha sebaik
mungkin,
kebanyakan siswa menolak untuk menanggapi Kekristenan secara serius.

Tahun ini, Dr.
Christianson mempunyai seorang siswa yang spesial
yang
bernama, Steve. Steve belajar dengan tujuan untuk melanjutkan studinya
ke
seminari dan mau masuk ke dalam pelayanan. Steve seorang yang popular,
ia
disukai banyak orang, dan seorang atlet yang memiliki fisik yang prima
dan
ia merupakan siswa terbaik di kelas professor itu.

Suatu hari, Dr Christanson meminta Steve untuk tidak langsung
pulang
setelah kuliah karena ia mau berbicara kepadanya. "Berapa push up yang
bisa
kamu lakukan?" Steve menjawab, "Saya melakukan sekitar 200 setiap
malam."
"200? Lumayan itu, Steve," Dr. Christianson melanjutkan.
"Apakah
kamu
dapat melakukan 300?" Steve menjawab, "Saya tidak tahu. Saya tidak
pernah
melakukan 300 sekaligus." "Apakah kamu pikir kamu dapat
melakukannya? "
tanya Dr.Christianson. "Ok, saya bisa coba," jawab Steve.

"Saya mempunyai satu proyek di
kelas dan saya memerlukan kamu
untuk
melakukan 10 push up setiap kali, tapi sebanyak 30 kali, jadi totalnya
300.
Dapatkah kamu melakukannya? " tanya sang profesor. Steve
menjawab,
"Baiklah, saya pikir saya bisa. Ok, saya akan melakukannya.
"
Dr
Christianson berkata, "Bagus sekali! Saya memerlukan Anda
untuk
melakukannya Jumat ini." Dr Christianson menjelaskan kepada Steve apa
yang
ia rencanakan untuk kelas mereka pada Jumat itu.

Pada hari Jumat, Steve datang awal ke kelas dan duduk di bagian
depan
kelas. Saat kelas bermula, sang profesor mengeluarkan satu kotak
besar
donut. Bukan donut yang biasa tetapi yang besar dan yang punya krim
di
tengah-tengah. Setiap orang sangat bersemangat karena kelas itu
merupakan
kelas terakhir pada hari itu dan mereka bisa menikmati akhir pekan
mereka
setelah pesta di kelas Dr
Christianson.

Dr. Christianson pergi ke baris pertama dan bertanya, "Cynthia, apakah
kamu
mau salah satu dari donut ini?" Cynthia menjawab, "Ya". Dr.
Christianson
lalu berpaling kepada Steve, "Steve, apakah kamu mau melakukan 10 push
up
agar Cynthia bisa mendapatkan donut ini?" "Tentu saja!" Steve
lalu
melompat
ke lantai dan dengan cepat melakukan 10 push up. Lalu Steve kembali
ke
tempat duduknya. Dr.Christianson meletakkan satu donut di meja Cynthia.

Dr. Christianson lalu pergi siswa selanjutnya, dan bertanya, "Joe,
apakah
kamu mau suatu donut?" Joe berkata, "Ya." Dr.
Christianson
bertanya,
"Steve, maukah kamu melakukan 10 push up supaya Joe bisa
mendapatkan
donutnya?"

Steve melakukan 10 push up, dan Joe mendapatkan donutnya.
Begitulah
selanjutnya, di baris yang pertama. Steve melakukan 10 push up untuk
setiap
orang sebelum mereka
mendapatkan donut mereka. Di baris yang kedua,
Dr.
Christianson berhadapan dengan Scott. Scott seorang pemain basket,
dan
fisiknya sekuat Steve. Ia juga seorang yang sangat popular dan punya
banyak
teman wanita.

Saat profesor bertanya, "Scott apakah kamu mau donut?" Jawaban
Scott
adalah, "Baiklah, bisakah saya melakukan push up saya
sendiri?"
Dr.
Christianson berkata, "Tidak, Steve harus melakukannya. " Lalu
Scott
berkata, "Kalau begitu, saya tidak mau donutnya." Dr.
Christianson
mengangkat bahunya dan berpaling kepada Steve dan meminta, "Steve,
apakah
kamu mau melakukan 10 push up agar Scott bisa mendapatkan donut yang
tidak
ia kehendaki?" Dengan ketaatan yang sempurna Steven mulai melakukan 10
push
up. Scott berteriak, "HEI! Saya sudah berkata, saya tidak
menginginkannya!
" Dr Christianson berkata, "Lihat di sini! Ini kelas saya
dan
semuanya
ini
donut saya. Biarkan saja di atas meja jika kamu tidak menginginkannya. "
Ia
lalu menempatkan satu donut di atas meja Scott.

Di waktu ini, Steve sudah mulai melakukan push up dengan agak perlahan.
Ia
hanya duduk di lantai saja karena terlalu capek untuk kembali ke
tempat
duduknya. Ia mulai berkeringat. Dr. Christianson mulai di baris
ketiga.
Para siswa sudah mulai merasa marah. Dr Christianson bertanya kepada
Jenny,
"Jenny, apakah kamu mengingikan donut ini?" Dengan tegas Jenny
menjawab,
"Tidak." Lalu Dr. Christianson bertanya Steve, "Steve,
maukah
kamu
melakukan 10 push up lagi agar Jenny bisa mendapatkan donut yang tidak
ia
mau?"

Steve melakukan 10 push up dan Jenny mendapatkan satu donut. Ruang
sudah
mulai dipenuhi oleh rasa tidak nyaman. Para siswa sudah
mulai
berkata,"Tidak! " dan semua donut dibiarkan di
atas meja tanpa
ada
yang
memakannya. Steve sudah kelelahan dan harus berusaha keras untuk
tetap
terus melakukan push up untuk setiap donut itu. Lantai tempat ia
melakukan
push up sudah dibasahi keringatnya dan lengannya sudah mulai kemerahan.
Dr
Christianson bertanya kepada Robert, seorang ateis yang paling
lantang
suaranya kalau berdebat di kelas, apakah ia mau membantu untuk
memastikan
bahwa Steve tidak curang dan tetap melakukan 10 push up untuk setiap
donut
karena dia sendiri sudah tidak sanggup melihat Steve melakukan push up
nya.

Dr. Christianson sudah sampai ke baris ke-empat sekarang. Dan
beberapa
siswa dari kelas yang lain yang sudah bergabung di kelas itu dan
mereka
duduk di tangga. Saat profesor menghitung kembali, ternyata ada 34
siswa
sekarang di kelas. Ia mulai khawatir apakah Steve dapat melakukannya.
Dr.
Christianson melanjutkan
dari satu siswa ke siswa yang selanjutnya
sampai
ke akhir baris itu. Dan Steve sudah mulai bergumul. Ia membutuhkan
lebih
banyak waktu untuk menyelesaikan push up-nya. Steve bertanya kepada
Dr.
Christianson, "Apakah hidung saya harus menyentuh lantai untuk setiap
push
up yang saya lakukan?" Dr. Christianson berpikir sejenak dan
berkata,
"Semuanya ini push up kamu. Kamu yang pegang kendali. Kamu bisa
melakukan
apa saja yang kamu mau." Dan Dr. Christianson melanjutkan ke siswa
yang
selanjutnya.

Beberapa saat kemudian, Jason, seorang siswa dari kelas lain dengan
santai
mau masuk ke kelas, dan sebelum ia melangkahi masuk, seluruh
kelas
berteriak serentak, "JANGAN! Jangan masuk! Kamu berdiri di luar
saja!"
Jason kaget karena ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Steve
mengangkat
kepalanya dan berkata, "Tidak, biarkan dia masuk."

Professor
Christianson berkata, "Kamu sadar bahwa jika Jason masuk,
kamu
harus melakukan 10 push up untuk dia?"

Steve berkata, "Ya, biarkan dia masuk. Berikan donut
kepadanya."
Dr.Christianson berkata, "Ok Steve. Jason, kamu mau donut?" Jason
yang
baru
masuk ke kelas dan tidak tahu apa-apa menjawab, "Ya, tentu saja,
berikan
saya donut."

Steve melakukan 10 push up dengan sangat perlahan dan bersusah payah.
Jason
yang kebingungan diberikan satu donut. Dr. Christianson sudah
selesai
dengan baris ke-empat dan mulai ke tempat siswa-siswa dari kelas lain
yang
duduk di tangga.

Tangan Steve sudah mulai gemetaran dan ia harus bergumul untuk
mengangkat
dirinya melawan tarikan gravitas. Di waktu ini, keringatnya bercucuran,
dan
tidak kedengaran apa-apa kecuali bunyi nafasnya yang kencang. Mata
setiap
orang di kelas itu mulai basah. Dua siswa terakhir adalah
dua
siswa
perempuan yang sangat popular, Linda dan Susan.

Dr. Christianson pergi ke Linda, "Linda, apakah kamu mau donut?"
Linda
dengan sedih berkata, "Tidak, terima kasih"

Professor Christianson dengan perlahan bertanya, "Steve, maukah
kamu
melakukan 10 push up supaya Linda bisa mendapatkan donut yang tidak
ia
mau?" Dengan pergumulan yang berat, Steve dengan perlahan melakukan
push-up
untuk Linda. Lalu Dr Christianson berpaling kepada siswa
yang
terakhir,Susan. "Susan, kamu mau donut ini?" Susan dengan air
mata
yang
berlinangan di pipinya mulai menangis. "Dr Christianson, mengapa saya
tidak
boleh membantunya? "

Dr. Christianson, dengan mata yang berkaca-kaca berkata, "Tidak,
Steve
harus melakukannya sendiri; saya telah memberinya tugas itu dan
ia
bertanggungjawab untuk memastikan setiap orang mempunyai
kesempatan
untuk
mendapat donut itu, tidak kira apakah mereka menginginkannya atau
tidak.
Hanya Steve seorang saja yang mempunyai nilai yang sempurna. Setiap
orang
telah gagal dalam ujian mereka, mereka entah bolos kelas atau
memberikan
saya tugas yang di bawah standar. Steve memberitahu saya di
latihan
football, saat seorang pemain buat salah, ia harus buat push up.
Saya
memberitahu Steve bahwa tidak seorang pun dari kalian yang boleh datang
ke
pesta saya melainkan ia membayar harga dengan melakukan push up
bagi
kalian. Steve dan saya telah membuat perjanjian demi kalian semua."

"Steve, maukah kamu membuat 10 push up supaya Susan bisa
mendapatkan
donut?" Steve dengan sangat perlahan melakukan 10 push up yang
terakhirnya.
Ia tahu ia sudah menyelesaikan semua yang harus dia lakukan. Secara
total,
Steve telah melakukan 350 push up, tangannya
tidak tahan lagi dan ia
jatuh
tersungkur ke lantai. Dr. Christianson lalu berpaling ke kelas dan
berkata,
"Dan, demikianlah, Juru Selamat kita, Yesus Kristus, di atas kayu salib,
ia
telah melakukan semua yang dibutuhkan olehnya. Ia menyerahkan semuanya.
Dan
seperti mereka yang ada di ruangan ini, banyak di antara kita
yang
membiarkan hadiah itu begitu saja di atas meja, sama sekali tidak
kita
jamah."

Dua siswa mengangkat Steve dari lantai untuk duduk di kursi,
walaupun
sangat lelah secara fisik, Steve tersenyum bahagia. "Engkau sudah
berbuat
dengan baik, hambaku yang baik dan setia," kata professor dan
ia
menambahkan, "Tidak semua khotbah disampaikan dengan kata-kata."
Berpaling
kepada kelas, profesor berkata, "Harapan saya adalah kalian dapat
memahami
dan sepenuhnya mengerti akan semua kekayaan kasih karunia dan rahmat
yang
telah
diberikan kepada kalian lewat pengorbanan Yesus Kristus. Allah
tidak
menyayangkan putra satu-satu-Nya, tetapi menyerahkan dia untuk kita
semua.
Apakah kita memilih untuk menerima menolak karunia-Nya, harganya
sudah
lunas dibayar."

"Apakah kita akan menjadi orang yang bodoh dan yang tidak bersyukur
dengan
meninggalkan hadiah itu di atas meja?"

GBU








^:^ : IP 54.82.112.193 : 2 ms   
SMA PL ST. YOSEF SURAKARTA
 © 2017  http://styosef.pangudiluhur.org/