SMA PL ST. YOSEF SURAKARTA
SMA PANGUDI LUHUR ST. YOSEF - Jl. L.U. Adisucipto (Jl. Kelengkeng No. 1) Surakarta  Telp/Fax. 62-271-710795
Selasa, 22 Agustus 2017  - 1 User Online  
BERANDABUKU TAMUHUBUNGI KAMI 


19.04.2012 12:16:10 673x dibaca.
ARTIKEL
UN mau dibawa kemana

di muat di harian Joglosemar  (20 Januari 2012)

 

Sejak dilaksanakan tahun 2003, ujian nasional (UN) banyak sekali mengalami perubahan tanpa kepastian hakiki. Hal itu sangat berdampak pada kebingungan dan ketidakpastian guru pelaksana dan guru mata pelajaran (mapel) UN di sekolah dalam mengatur jadwal tatap muka, evaluasi, remidiasi, tryout dan pengayaan. Pasalnya, aturan pelaksanaan UN selalu bersifat mendadak, yaitu hanya rentang 3-4 bulan dari pelaksanaan UN itu sendiri.
Awalnya UN disertai UN ulangan (2003-2005), berikutnya tanpa UN ulangan (hanya tiga mapel), tahun 2007 menjadi enam mapel (SMA) dan lima Mapel (SMP). UN ulangan kembali muncul tahun 2009 dan tahun 2010 kembali lagi tanpa UN ulangan dengan formula baru.
Permendikbud Nomor 59 tahun 2011 yang mengatur penyelenggaraan UN 2012,  seolah mengadopsi era Evaluasi Belajar Tahap Akhir (Ebta) dan Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas). Penentuan kelulusan dilakukan sekolah dengan mengafirmasi nilai rapor dalam pembelajaran selama di sekolah. Kelulusan dihitung dari 40 persen nilai ujian sekolah dan 60 persen nilai UN.
Banyak kalangan khawatir terjadi pengubahan nilai rapor   dan mark up (penggelembungan) nilai Ujian Sekolah (US). Toh rata-rata nilai akhir harus berjumlah minimal 5,5. Maka segenap sosialisasi yang dilakukan dengan tabel rentang nilai dilakukan. Dengan asumsi nilai UN sangat rendah maka nilai Rata-rata rapor dan US harus dibuat sedemikian rupa agar bisa mengangkat jumlah nilai akhir untuk memenuhi standar  minimal.
Lalu, mau dibawa ke mana UN selanjutnya kalau hanya pemenuhan perubahan tanpa adanya perbaikan sistem dan pemerataan pendidikan itu sendiri? Formula dan penganuliran dengan formula baru tapi lama, menunjukkan sebuah paradoks dari pelaksanaan UN. Maka dimungkinkan banyak sekali permasalahan yang akan timbul dalam pelaksanaannya nanti.
Hakikat UN ulangan sendiri dimaksudkan memperbaiki nilai siswa yang tidak lulus UN utama. Maka siswa yang tidak mengikuti UN ulangan dinyatakan tidak lulus. Menurut pepatah latin, Age quod agis, lakukanlah apa yang (harus) kau lakukan. Begitu juga bagaimana kita dalam memfasilitasi secara maksimal kepada siswa peserta UN untuk memenuhi standar nilai, dipastikan pihak sekolah melakukan optimalisasi usaha. Dimungkinkan muncul kecurangan baru yang tetap legal karena pihak sekolah punya kesempatan dan wewenang.
Meski demikian idealnya gerakan memompa semangat dan motivasi wajib diberikan kepada siswa. Demikianlah berbagai usaha dilakukan demi menyiapkan mental siswa dengan pembimbingan, pendampingan dan pemberian spirit sebagai kewajiban orangtua, guru dan masyarakat.
Penulis berharap masih ada usaha nurani sekolah guna memotivasi dan memberi semangat kepada siswanya. Selain kerja keras dari tambahan jam belajar, pengayaan dan latihan soal kembali, yang paling penting dengan kemauan siswa mengikuti formula UN baru. Menyiapkan mental dengan menerima kenyataan bahwa mereka masih harus terus berusaha serta jangan menyepelekan aturan yang sudah cukup memihak.
Tidak Yakin
UN bisa dikatakan sebagai hasil paradoks. Ketika banyak siswa yang berhasil lulus (sampai 100 persen) menjadikan banyak pendidik justru heran. Mereka kadang tidak yakin bila proses pendampingan belajarnya bisa berhasil. Sebab dalam kegiatan belajar mengajar rasa putus asa sering muncul dengan lemahnya semangat dan mental siswa.
Maka bila ada siswa yang gagal dalam UN pun semakin menjadi sangat mengherankan. Dengan penentuan kriteria kelulusan yang sangat mudah, kok masih juga ada siswa yang gagal. Meski penyebab kegagalan tersebut bervariasi dan bisa diprediksi sejak awal. Tingkat stres yang tinggi, depresi dan lemah mental karena bayangan UN yang menakutkan menjadi salah satu penyumbang utama kegagalan.
Berbagai hal penyebab siswa gagal dan stres menjadikan pemikiran bersama antar-stakeholder pendidikan. Sebab bila dibiarkan berlarut-larut, akan menjadi budaya (kebiasaan), dan menghilangkan esensi UN itu sendiri di mata siswa, orangtua dan masyarakat. UN akhirnya dianggap menjadi tidak penting lagi sehingga banyak yang mengabaikan dan gejolak penolakan.
Kegagalan UN dipengaruhi oleh beberapa faktor intern dan ekstern. Secara intern jelas selama persiapan UN menjadi beban berat baik secara psikis, fisik, sosial dan mental. Karena banyaknya waktu yang dilakukan siswa guna menyelesaikan berbagai latihan soal (tryout), tambahan jam pelajaran sampai mengikuti berbagai motivasi dari berbagai lembaga pendidikan.
Faktor ekstern lahir dari sekolah, orangtua dan kebijakan pendidikan itu sendiri. Tuntutan dari orangtua dan sekolah yang mengharuskan siswa berhasil lulus. Belum lagi pertanyaan yang sering lahir secara spontan dari lingkungan masyarakat menjadikan beban semakin bertambah. Berbagai sindiran, cemoohan, dan apriori bisa meningkatkan penurunan mental secara signifikan.
Maka penanaman kepercayaan dan sugesti positif perlu dilakukan secara intensif. Upaya ini sebagai hal yang menandakan sikap kepercayan diri dalam melakukan sesuatu aktivitas positif. Sebuah keyakinan akan kemampuan diri dalam mengelola manajemen diri guna menghadapi segala risiko kegagalan,  mengatasi krisis mental dan kepercayaan diri sendiri.
Penanaman sugesti positif merupakan pengaruh positif yang dapat menggerakkan hati orang–orang yang mendengarnya untuk melakukan tindakan-tindakan positif bagi kehidupannya (Vatonie:2009).
Formula baru UN sebagai bentuk kebijakan membingungkan. Oleh karena itu menjadi tanggung jawab guru untuk memantapkan perasaan dan pikiran secara positif, pasrah pada Sang Pencipta bahwa hasil tersebut adalah sebuah konsekuensi logis seorang pelajar. Segera mungkin kembalikan kepercayaan diri siswa, adakan pembinaan yang mengarah pada kekuatan mental siswa. Perubahan formula dengan maksud menolong siswa agar berhasil. Namun kenyataannya menjadi bumerang timbulnya persoalan baru dari rangkaian UN. Menjadikan bentuk paradoks kegagalan dari UN itu sendiri, maka layaklah sistem ini bisa ditinjau ulang kembali dalam pelaksanaannya nanti. Maka, lakukanlah evaluasi dan uji kelayakan publik sebagai pembelajaran bersama demi UN yang berkualitas.

  Oleh FX Triyas Hadi Prihantoro

Guru SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta

 








^:^ : IP 54.166.199.43 : 2 ms   
SMA PL ST. YOSEF SURAKARTA
 © 2017  http://styosef.pangudiluhur.org/